Penantian pasar terhadap kebijakan moneter The Fed akhirnya terjawab. Bank sentral Amerika Serikat (AS) ini memutuskan mengerek Fed funds rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 0,75 % – 1%. Instrumen investasi apa saja yang menarik dikoleksi investor pasca keputusan tersebut ?

Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo memilih, efek saham tetap jadi yang terbaik tahun ini. Jika investor kesulitan membelinya secara langsung, produk reksadana saham dapat menjadi alternatif.

Apalagi, ada beberapa sentimen positif yang menyokong pasar saham domestik saat ini. Mulai dari membaiknya kinerja emiten, peluang Standard & Poors (SNP) menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi investment grade, serta segera berakhirnya perhelatan Pilkada.

Kondisi makro ekonomi Indonesia pun cukup stabil. Hal ini terlihat dari posisi nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga BI serta inflasi yang terkendali.

“Sektor saham seperti perbankan, telekomunikasi dan otomotif bisa jadi pilihan. Inflow dari asing akan masuk ke sektor tersebut,” tutur Soni, kemarin. Ia optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mencapai 5.800 akhir tahun ini.

Direktur dan Senior Partner OneShildt Financial Planning Budi Raharjo juga menilai, investasi saham akan jadi jawara tahun ini. Instrumen investasi ini berpotensi menguat di tengah tren perbaikan ekonomi dunia.

Ia merekomendasikan saham-saham di sektor infrastruktur, properti, konstruksi dan sektor pendukung lainnya untuk dikoleksi. Selain saham, Budi juga merekomendasikan menggengam dollar AS. “Tapi dengan catatan memang ada kebutuhan di masa mendatang, kalau untuk spekulasi jangan,” tegas dia.
Pasar surat utang

Sementara, Investment Director Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana menyarankan, bagi investor yang mengincar obligasi sebaiknya menerapkan strategi buy on news. Sebab, pasar surat utang disinyalir dapat melambung. “Suku bunga The Fed naik malah dollar AS melemah,” ujar dia.

Nah, obligasi yang dipilih sebaiknya milik pemerintah. Sebab, di kala pasar bullish, surat utang negara (SUN) berpeluang menguat lebih tinggi lantaran besarnya likuiditas.

Emas pun bisa dijadikan pilihan. Sebab, di tengah tren kenaikan inflasi dalam negeri, si kuning dapat menjadi aset lindung nilai.

Untuk investasi di saham, Jemmy menyarankan investor mengapit saham di sektor keuangan, aneka industri serta pertambangan. “Karena pertumbuhan laba bersih ketiga sektor itu bakal paling tinggi. Saran saya alokasi dana pada emas 20%, SUN 30%, money market 20% dan saham 30%,” terang dia.

Andre Varian, Fund Manager BNI Asset Management, mengungkapkan, reksadana pasar uang juga dapat menjadi alternatif investasi. Karena produk ini bisa memberikan return sekitar 6%-6,7% sepanjang tahun ini.

Reksadana terproteksi yang beraset dasar obligasi korporasi bertenor pendek dengan rating minimal idA+ juga dapat menjadi pilihan. “Mengingat potensi turbulensi dari pasar modal,” terang Andre. Maklum, pasar Indonesia tahun ini masih dibayangi beberapa tantangan, mulai dari inflasi, rencana kenaikan Fed funds rate, realisasi kebijakan Trump, hingga perkembangan politik Uni Eropa. (Budi Prastowo/Akbar Nugroho Gumay)

Jasliza JohorCaraka OnlineUncategorized
Penantian pasar terhadap kebijakan moneter The Fed akhirnya terjawab. Bank sentral Amerika Serikat (AS) ini memutuskan mengerek Fed funds rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 0,75 % - 1%. Instrumen investasi apa saja yang menarik dikoleksi investor pasca keputusan tersebut ? Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo memilih,...