Atase Ketenagakerjaan (Atnaker), Mustafa Kamal bersama Argiadipa Subandhi Sekretaris Kedua  Fungsi Konsuler, Konsulat Jenderal RI Johor Bahru , pada tanggal  9 hingga 11 Feberuari 2017 melakukan kegiatan Monitoring dan Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  ke tiga Perusahaan di Wilayah Negeri Melaka dan Negeri Sembilan.

Kegiatan ini bertujuan untuk memonitor dan melihat langsung keberadaan serta kondisi para TKI. Selain melakukan dialog langsung untuk mengetahui permasalahan-permasalahan mereka.

Di setiap kunjungan ke perusahaan yang mempekerjakan TKI, Atnaker selalu melakukan pertemuan dengan manajemen perusahaan.

Menurutnya hal ini dilakukan pertama untuk mengetahui proses perekrutan TKI yang dilakukan pihak perusahaan, kedua bagaimana sistem penggajian dan tunjangan lain yang diberikan kepada TKI, ketiga fasilitas yang diberikan kepada TKI, dan yang keempat menginventarisir permasalahan-permasalahan TKI.

Hal penting lainnya adalah mencari seberapa banyak peluang untuk menempatkan lebih banyak TKI dengan meminta pihak management untuk menambah quota penempatan TKI di perusahaannya.

Ketika pertemuan dengan manajemen Syarikat Pembinaan Atlantic Venture Sdn Bhd, yang terletak di No. 53-1 Jalan KPKS 3, Komplek Perniagaan Kota Syahbandar, 75200 Melaka, Atnaker menanyakan bagaimana proses rekruitmen TKI yang bekerja di syarikatnya dan selama ini bekerja sama dengan berapa PPTKIS.

Encik Ting Kah Kin, selaku Pengarah  Syarikat Atlantic Venture Sdn Bhd  yang didampingi oleh Encik Tan Wee Boon, Senior Project Manager, saat menerima Atnaker dan Rombongan di kantornya, agak kebingungan menjawab pertanyaan Atnaker, sambil menoleh ke arah rekannya dan berbicara dengan bahasa Cina, tak lama kemudian berkata “Bapak sertakan ini kami minta bantuan kepala pekerja yang sudah lama bekerja dengan kami untuk mencarikan teman/keluarganya di Indonesia yang mau bekerja dengan kami. Kami uruskan calling visa-nya. Ongkosnya kami bayar melalui kepala pekerjanya,” jawab  Ting.

“Kami jamin dua ratus lima puluh pekerja Indonesia yang bekerja dengan kami semuanya ada permit, dan kami bayar upah mereka perharinya minimum RM. 60.00 (Ringgit Malaysia : Enam puluh),”  lanjut  Ting lagi, seakan-akan ingin memastikan apa yang dilakukannya  sudah benar.

“Terima kasih atas penjelasannya, namun perlu saya sampaikan bahwa cara perekrutan seperti itu salah karena tidak sesuai prosedur, Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 yang berlaku di Indonesia, dan merujuk MoU Indonesia dan Malaysia Tahun 2006  tentang Penempatan TKI Sektor Formal, bahwa untuk penempatan TKI ke Malaysia harus melalui Kerjasama Penempatan antara Pihak Majikan/Syarikat dengan PPTKIS,  keduanya harus membuat demand letter di Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur atau Konsulat Jenderal RI di Johor Bahru”  demikian penjelasan Atnaker Mustafa Kamal, menanggapi jawaban En. Ting tadi.

Lebih lanjut Atnaker menyampaikan bahwa cara perekrutan seperti ini akan menyebabkan  TKI tidak mendapat perlindungan maksimal karena keberadaannya di Malaysia tidak tercatat di SISKO TKLN  BNP2TKI, tidak memiliki Perjanjian Kerja dan tidak memiliki perlindungan Asuransi Indonesia.

Atnaker meminta  Ting untuk perekrutan TKI dimasa yang akan datang agar sesuai dengan prosedur, KBRI Kuala Lumpur dan KJRI Johor Bahru  pasti akan bantu.

Model perekrutan dengan menggunakan TKI sebagai sponsor untuk mengajak saudara atau temannya bekerja di Malaysia,  hal ini dibenarkan oleh Moh. Hasani, TKI asal Kangean Madura, yang sudah tujuh tahun bekerja di Malaysia, dan sudah dipercaya sebagai kepala pekerja. Saat ditemui di tapak Projek  Condominium  Parkland Residence yang tengah dibangun oleh Syarikat Atlantic Venture Sdn Bhd di Bandaraya Melaka.

“Bos kan minta ke saya untuk cari pekerja di kampung Madura, sayapun cari lah disana dengan bantuan saudara dan kawan, saya suruh mereka buat paspor dan medical, kalau sudah jadi kita serahkan ke bos,  bos akan uruskan calling visa-nya,” ungkap Moh. Hasani menceritakan bagaimana dia sewaktu mengajak saudara dan teman sekampungnya bekerja ke Malaysia kepada kontributor Caraka.

Pengakuan Moh. Hasani,  250 TKI yang bekerja dengannya semuanya berasal dari daerah Madura, dan datang ke Malaysia dengan cara yang sama, sebagaimana dia jelaskan tadi. Namun demikian semuanya ada permit yang syah.

Disaat para TKI berkumpul untuk beristirahat di kantin yang berada di kawasan pembinaan, Atnaker dan Pejabat Konsuler KJRI Johor Bahru mengingatkan para TKI agar disiplin memakai perlengakapan keselamatan kerja, karena bekerja di sektor pembinaan resiko pekerjaan yang dihadapi sangat berat, rentan akan bahaya dan kecelakaan kerja. (Turja Sugirman / Info Kedutaan)

Agus SetiawanCaraka Online
Atase Ketenagakerjaan (Atnaker), Mustafa Kamal bersama Argiadipa Subandhi Sekretaris Kedua  Fungsi Konsuler, Konsulat Jenderal RI Johor Bahru , pada tanggal  9 hingga 11 Feberuari 2017 melakukan kegiatan Monitoring dan Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  ke tiga Perusahaan di Wilayah Negeri Melaka dan Negeri Sembilan. Kegiatan ini bertujuan untuk memonitor dan...