Cerita berawal ketika ibu Rini Yuliawati datang ke KBRI Kuala Lumpur untuk menanyakan informasi status kewarganegaraan anaknya yang berkewarganegaraan asing tinggal di Indonesia sejak lahir di Jakarta pada tanggal 26 April 2000.

Ibu Rini menginginkan tinggal bersama karena saat ini masih duduk di bangku SMA negeri di Jakarta dan prihatin untuk bisa membawa anaknya ke Malaysia. Tesyha dilahirkan dari pernikahan pertamanya dengan warganegara Jepang pada tahun 1998.

Sejak berpisah suami tidak diketahui keberadaanya dan ibu tersebut harus menanggung membayar fiskal bulanan untuk anak tersebut, dia berharap bisa pindah warganegara dengan mudah karena yang bersangkutan adalah WNI tapi perkiraannya salah.

Teysha dilahirkan tahun 2000 dimana belum keluarkannya Undang – Undang Kewarganegaraan No.12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan. Hal pertama yang dilakukannya dalam usaha untuk mendapatkan kewarganegaraan , yang bersangkutan harus datang ke KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) karena yang bersangkutan bermukim di Malaysia dan anaknya tinggal di Indonesia.

Akan tetapi surat KPAI tidak memenuhi syarat untuk pengurusan kewarganegaraam, selanjutnya yang bersangkutan harus mengirimkan surat permohonan dan datang langsung ke Ditjen AHU Kemenkumham namun belum berhasil meskipun beberapa kali sudah memohon kembali dan memenuhi semua persyaratan namun ditolak.

Sudah bertahun – tahun Ibu Rini menghabiskan tenaga dan pikiran untuk status kewarganegaraan Teysha Hiramatsu, sampai pada akhirnya mendapatkan informasi dari teman untuk berkonsultasi dengan bagian Atase Hukum KBRI Malaysia karena terkait dengan status kewarganegaraan dan bertemu dengan Atase Bapak Fajar Sulaeman.

“Alhamduliah, mendapat titik terang , beliau menuntun saya untuk mengirimkan surat permohonan kewarganegaraan lagi yang kali ini ditujukan kepada Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham, kemudian mendapatkan balasan dari Direktur Tata Negara Bapak Tehna Bana Sitepu yang isinya; bahwa berdasarkan asas dalam Undang – Undang no. 12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan Republik Indonesia yaitu asas pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia berdasarkan asas tersebut maka Teysha Hiramatsu diberikan kewarganegaraan Republik Indonesia,” kenang ibu Rini.

Kemudian yang bersangkutan datang ke Kantor Imigrasi di ibukota untuk mengajukan balik pembuatan paspor tetapi surat dari Ditjen AHU tentang kewarganegaraan Teysha Hiramatsu tersebut ditolak oleh Kantor imigrasi dengan alasan surat tersebut tidak memenuhi syarat dan bukan surat pengakuan kewarganegaraan RI, karena anak ybs sudah bertahun – tahun tidak membayar fiskal , sehingga sempat kaget dan berpikir usahanya selama bertahun – tahun melalui jalur yang benar dan memenuhi semua persyaratan yang benar pula.

Kemudian ibu Rini menceritakan hal diatas dan dikomunikasikan kembali oleh Atase Hukum, Alhamdulilah dengan bantuan KBRI Kuala Lumpur Teysha sudah mendapatkan paspor RI dan sekarang sedang menguruskan pertukaran sekolahnya untuk pindah ke Malaysia.

“Mungkin banyak anak – anak lain yang bernasib sama dengan Teysha Hiramatsu karena masih kurangnya kepedulian dan perlindungan terhadap anak – anak perkawinan campur dan mengucapkan banyak terimakasih atas upaya KBRI KL memberikan perhatian khusus terhadap status kewarganegaraan Teysha Hiramatsu,” kata ibu Rini. (Fajar Sulaeman/Info Kedutaan)

http://kbrikualalumpur.org/w/wp-content/uploads/2017/03/IMG_0525.jpghttp://kbrikualalumpur.org/w/wp-content/uploads/2017/03/IMG_0525-150x150.jpgFajar SulaemanCaraka OnlineHukum
Cerita berawal ketika ibu Rini Yuliawati datang ke KBRI Kuala Lumpur untuk menanyakan informasi status kewarganegaraan anaknya yang berkewarganegaraan asing tinggal di Indonesia sejak lahir di Jakarta pada tanggal 26 April 2000. Ibu Rini menginginkan tinggal bersama karena saat ini masih duduk di bangku SMA negeri di Jakarta dan prihatin...